Pergilah Menuntut Ilmu, Nak... Di Gerbang Pondok Kami Titipkan Rindu dan Doa
Hari ini kami belajar tentang ikhlas,
Saat langkahmu perlahan menjauh dari pelukan.
Di gerbang pondok pesantren kami melepasmu,
Sambil menggenggam doa, menahan haru yang tak terucapkan.
Tak ada lagi suara riangmu di pagi hari,
Tak ada lagi langkah kecil yang berlari di teras.
Rumah ini masih berdiri seperti kemarin,
Namun suasananya tak lagi sama sejak kau berangkat.
Kamarmu tetap kami rapikan setiap pagi,
Sajadahmu tetap terbentang di sudut ruang.
Seakan-akan kau hanya sedang pergi sebentar,
Lalu pulang membawa senyum yang kami rindukan.
Namun beginilah cinta seorang ayah dan ibu,
Tak selalu memeluk, tak selalu menggenggam.
Ada saatnya cinta belajar merelakan,
Agar anaknya tumbuh dalam kemuliaan.
Nak...
Bukan karena kami tak sanggup menjagamu,
Tetapi kami ingin Allah yang menjagamu.
Bukan karena kami ingin jauh darimu,
Tetapi karena kami ingin engkau dekat dengan Tuhanmu.
Jadilah santri yang mencintai Al-Qur'an,
Yang lisannya santun dan lembut tutur katanya.
Yang ilmunya luas namun tetap rendah hati,
Karena adab lebih tinggi daripada kepandaian diri.
Hormatilah setiap guru yang mengajarmu,
Karena dari tangan merekalah cahaya ilmu dititipkan.
Sayangilah teman-temanmu seperti saudaramu,
Karena di pondok, keluarga hadir dalam persaudaraan.
Pahami agama bukan sekadar untuk dihafal,
Tetapi agar menjadi jalan hidupmu.
Jadikan setiap ayat sebagai pelita,
Dan setiap sujud sebagai tempat menguatkan jiwa.
Kelak ketika Allah mendewasakan usiamu,
Engkau akan tumbuh menjadi seorang lelaki.
Lelaki yang tak hanya kuat dalam bekerja,
Tetapi juga kuat menjaga amanah dan harga diri.
Jadilah imam yang menenangkan keluarganya,
Suami yang memuliakan istrinya.
Ayah yang menjadi teladan bagi anak-anaknya,
Serta anak yang tak pernah lupa mendoakan orang tuanya.
Raihlah ilmu setinggi langit,
Namun jangan biarkan kakimu meninggalkan bumi.
Ukirlah karya sebanyak-banyaknya,
Namun jangan biarkan hatimu kehilangan rendah hati.
Semoga Allah melapangkan setiap jalanmu,
Membukakan pintu rezeki yang halal dan berkah.
Menjadikan ilmumu bermanfaat bagi agama,
Bagi bangsa, negeri, dan seluruh sesama.
Di rumah ini...
Ada seorang adik yang kini sering termenung.
Ia memandangi pintu setiap sore,
Berharap kakaknya pulang membawa senyum.
Mainan yang dulu kalian rebutkan masih tersimpan,
Sepeda kecil itu masih setia di halaman.
Tak ada lagi tawa yang saling bersahutan,
Yang ada hanya rindu dalam diam.
Nak...
Bila suatu malam rindumu datang menyapa,
Tataplah langit yang sama dengan kami.
Karena di bawah langit itu pula,
Ayah dan Ibu sedang menyebut namamu dalam setiap doa.
"_Ya Allah..._
_Jagalah anak kami di pondok pesantren._
_Terangilah hatinya dengan cahaya iman._
_Indahkan akhlaknya, kuatkan ibadahnya._
_Muliakan guru-gurunya, baikkan sahabat-sahabatnya._
_Lapangkan rezekinya, sehatkan jasmaninya._
_Jadikan ia santri yang saleh, Lelaki yang bertanggung jawab,_
_Anak yang membanggakan keluarga,_
_Serta hamba yang selalu dekat kepada-Mu."_
Nak...
Jangan pernah merasa sendiri.
Sebab di setiap langkahmu ada doa kami,
Di setiap sujud kami ada namamu,
Dan di setiap rindu kami ada harapan terbaik untukmu.
Kami yakin...
Perpisahan ini bukanlah akhir cerita.
Ini hanyalah jalan yang Allah pilih,
Agar engkau pulang dengan kemuliaan.
Kelak, saat masa belajarmu telah usai,
Kami ingin menyambutmu di depan rumah.
Adikmu akan berlari memeluk kakaknya,
Dan rumah ini akan kembali dipenuhi tawa yang lama hilang.
Pergilah menuntut ilmu, Nak...
Di gerbang pondok kami titipkan rindu dan doa.
Pergilah membawa cita-cita, pulanglah membawa ilmu.
Pulanglah dengan akhlak yang mulia, hati yang matang, serta cahaya agama yang akan menghangatkan kembali rumah yang selalu menantimu.
------------------------
Dengan segala rindu dan doa,
untuk Rahadian Wira Rahman,
anak yg kami lepaskan demi masa depan yg lebih indah.
Bekasi, 19 Juli 2026
— Ayah dan Ibu
Penulis: Choirul Rochman
Posting Komentar untuk "Pergilah Menuntut Ilmu, Nak... Di Gerbang Pondok Kami Titipkan Rindu dan Doa"