CERPEN ROHIM: MAIN BOLA BERSAMA AYAH

“Ayah… ayo main bola lagi.”

Suara kecil itu terdengar dari samping tempat tidur.

Anak semata wayang berusia delapan tahun itu sudah berdiri sejak beberapa menit lalu. Sebuah bola plastik berada di tangannya. Wajahnya penuh semangat, seolah dunia hanya berisi satu hal yang ingin dilakukannya sore itu: bermain bola bersama ayah.

Namun sang ayah masih sibuk dengan telepon pintarnya.

Ponsel merek Sa***ng yang dibeli tiga tahun lalu seharga Rp1,7 juta itu masih setia menemani pekerjaannya. Layarnya sudah beberapa kali retak kecil, baterainya cepat habis, dan kecepatannya tidak lagi seperti dulu.

Tetapi benda itulah yang setiap hari digunakan sang ayah untuk membaca pesan, mencari informasi, hingga mengetik berita.

“Ayah… ayo.”

“Iya, sebentar.”

Sang ayah masih menatap layar.

“Ayah masih ngetik berita.”

Anaknya tidak beranjak.

“Ayah dari tadi bilang sebentar.”

Sang ayah tersenyum.

“Iya, ini tinggal sedikit.”

“Sedikitnya dari tadi.”

Sang ayah terkekeh.

“Iya, iya.”

Namun beberapa detik kemudian telepon pintarnya kembali berhenti.

Jari sang ayah mengetuk layar berkali-kali.

“Lho…”

Tidak bergerak.

Kemudian muncul sebuah pemberitahuan:

“Memori penuh. Kosongkan ruang 1 GB agar Anda mendapatkan ruang penyimpanan.”

Sang ayah menghela napas panjang.

“Hmm… memori penuh lagi.”

Ia membuka beberapa aplikasi, tetapi semuanya terasa lambat.

“HP ini kalau diajak kerja sekarang malah bikin emosi.”

Anaknya tersenyum kecil.

“Makanya main bola saja sama aku.”

Sang ayah menoleh.

Anak itu masih memegang bola.

Kali ini sang ayah benar-benar memperhatikan wajahnya.

Ada sesuatu yang sederhana dari permintaan itu.

Tidak meminta mainan baru.

Tidak meminta uang.

Tidak meminta pergi ke tempat mahal.

Ia hanya ingin ayahnya bermain bersamanya.

Sang ayah akhirnya meletakkan telepon pintarnya di atas karpet lusuh di samping kasur.

Kabel charger yang ujung dekat kepala chargernya sudah dilakban kemudian ia colokkan ke ponsel.

“Sebentar HP Ayah dicas.”

Anaknya langsung tersenyum.

“Sekarang?”

“Sekarang.”

Mereka keluar kamar.

Duk… duk… duk…

Suara bola mulai terdengar.

“Ayo, Ayah! Lempar!”

Sang ayah mengambil bola.

“Siap?”

“Siap!”

Bola dilempar.

Anaknya berlari mengejar.

“Hahaha!”

Bola terlepas dari tangannya.

“Ulangi!”

Sang ayah melempar lagi.

Kali ini berhasil ditangkap.

“Dapat!”

“Wah, hebat.”

“Ayah kalah!”

“Lho, kok Ayah yang kalah?”

Anaknya tertawa.

Sang ayah ikut tertawa.

Mereka bermain tanpa menghitung waktu.

Sesekali sang ayah pura-pura tidak bisa menangkap bola. Sesekali anak itu menjatuhkan diri ke tanah karena terlalu bersemangat mengejar bola.

Sore semakin tua.

Cahaya matahari mulai berubah.

Namun keduanya belum ingin berhenti.

“Ayah, satu kali lagi.”

“Sudah banyak sekali satu kalinya.”

“Yang terakhir.”

“Benar-benar terakhir?”

“Iya.”

Sang ayah mengangguk.

“Baik.”

Bola dilempar.

Anaknya menendang.

Buk!

Bola meluncur melewati kaki sang ayah.

“Gol!”

Anaknya berteriak kegirangan.

“Ayah kalah lagi!”

Sang ayah tertawa.

“Iya, Ayah kalah.”

Mereka kemudian duduk berdampingan di teras.

Anaknya menyandarkan kepala ke bahu ayahnya.

“Ayah…”

“Iya?”

“Besok main bola lagi?”

Sang ayah menatap langit.

Kemudian menatap anaknya.

“Besok Ayah usahakan.”

Anaknya langsung menjawab.

“Jangan usahakan. Harus.”

Sang ayah tertawa.

“Iya. Harus.”

“Janji?”

“Janji.”

Malam tiba.

Setelah anaknya tidur, sang ayah kembali mengambil telepon pintarnya.

Ada beberapa pesan masuk.

Ada pekerjaan yang belum selesai.

Ada berita yang harus ditulis.

Namun kali ini ia tidak langsung mengetik.

Ia justru membuka galeri.

Di sana ada foto anaknya sedang memegang bola.

Sang ayah tersenyum.

Ia kemudian menutup layar.

Ponsel diletakkan di atas meja.

“Berita bisa ditulis nanti,” gumamnya.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia memilih tidur lebih awal.


Pagi berikutnya, sang ayah terbangun karena suara bola.


Duk… duk… duk…

Ia membuka mata.

Dari luar kamar terdengar suara anaknya.

“Ayah!”

Sang ayah tersenyum.

“Ayah bangun!”

Ia segera keluar kamar.

Anaknya sudah berdiri di halaman dengan bola di tangan.

“Janji kemarin!”

Sang ayah tertawa.

“Iya, Ayah ingat.”

“Ayo main!”

“Ayo.”

Pagi itu mereka kembali bermain bola.

Tidak ada ponsel.

Tidak ada berita.

Tidak ada pekerjaan.

Untuk sementara, dunia mereka hanya berisi seorang ayah, seorang anak, dan sebuah bola plastik yang terus bergerak dari satu kaki ke kaki lainnya.

Setelah beberapa menit, sang anak bertanya,

“Ayah, kenapa sekarang HP-nya tidak dibawa?”

Sang ayah tersenyum.

“Karena Ayah sedang punya pekerjaan yang lebih penting.”

“Apa?”

Sang ayah menunjuk bola di tangan anaknya.

“Menjadi Ayah.”

Anaknya terdiam sebentar.

Kemudian tersenyum lebar.

“Ayah hebat.”

Sang ayah mengacak rambut anaknya.

“Tidak. Ayah yang belajar dari kamu.”

“Belajar apa?”

“Belajar bahwa waktu itu tidak bisa disimpan di memori HP.”

Anaknya mengernyitkan dahi.

“Memangnya waktu ada di HP?”

Sang ayah tertawa.

“Tidak.”

“Terus?”

“Waktu ada di kenangan.”

Anaknya tidak begitu mengerti.

Ia hanya mengambil bola dan melemparkannya.

“Ayo, Ayah!”

Sang ayah menangkap bola.

“Siap!”

“Main lagi!”

“Siap!”

Dan pagi itu mereka bermain lagi.

Besok mungkin pekerjaan akan kembali menumpuk.

Pesan mungkin akan terus berdatangan.

Ponsel mungkin kembali berbunyi.

Memori mungkin kembali penuh.

Tetapi sang ayah kini mengerti satu hal:

Anak-anak tidak selamanya berusia delapan tahun.

Hari ini mereka masih meminta digendong.

Hari ini mereka masih mengajak bermain.

Hari ini mereka masih memanggil,

“Ayah… ayo main bola.”

Karena itu, ketika suara kecil itu terdengar, sang ayah berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak selalu menjawab,

“Sebentar.”

Sebab suatu hari nanti, anak itu akan tumbuh besar.

Dan ketika masa itu tiba, yang tersisa bukan berapa banyak berita yang pernah ia tulis, bukan berapa banyak pesan yang pernah ia balas, dan bukan berapa lama ia menatap layar telepon pintarnya.

Yang akan tersisa adalah kenangan.

Kenangan tentang sebuah halaman kecil.

Sebuah bola plastik.

Tawa seorang anak.

Dan seorang ayah yang akhirnya memilih untuk hadir.

“Ayah, lempar bolanya!”

“Siap!”

Bola kembali melayang.

Duk!

Tawa mereka pun kembali memenuhi pagi.

__________

Tentang Penulis: Rohim, lahir Bakauheni -Lampung Selatan 19 mei 1981. Ia tinggal di Kabupaten Ponorogo Jawa Timur bersama  istri dan anaknya. Kini beliau bekerja sebagai Wartawan pada Media Online Bacamini.com


Posting Komentar untuk "CERPEN ROHIM: MAIN BOLA BERSAMA AYAH"