CERPEN ROHIM: SEPEDA KESAYANGAN

 

Ilustrasi bacamini.com

“Ayah, katanya mau ambil sepedaku?”

Suara Arya terdengar dari voice note yang dikirim melalui telepon pintar malam itu.

Ayah yang masih dalam perjalanan pulang segera membalas.

“Ayah masih di jalan, Mas.”

Beberapa detik kemudian, pesan suara dari Arya kembali masuk.

“Belikan aku kue ya, Yah.”

“Oke, Mas Arya ganteng,” jawab ayahnya.

Malam semakin larut. Perjalanan pulang dari alun-alun kota terasa sangat dingin. Sepeda motor tua yang dikendarai sang ayah melaju tidak lebih dari 50 kilometer per jam. Selepas traffic light terakhir dari arah alun-alun, jalanan mulai sepi.

Angin malam menerpa wajah. Hawa dingin terasa menusuk hingga ke tulang. Musim kemarau belum sepenuhnya berlalu. Hujan masih jarang turun. Berdasarkan perkiraan cuaca, musim penghujan pun masih beberapa bulan lagi.

Sang ayah terus memacu sepeda motornya perlahan. Di dalam pikirannya hanya ada satu hal: segera sampai rumah, bertemu istri dan anak semata wayangnya.

Jam menunjukkan pukul 22.30 ketika suara sepeda motor tua terdengar memasuki halaman rumah.

“Ayahhhhh!”

Teriakan Arya langsung terdengar dari dalam rumah. Anak berusia delapan tahun itu melompat dari tempat tidur dan berlari kecil menuju pintu samping.

“Ayah mana kuenya?” Tanyanya begitu pintu terbuka.

“Buka dulu pintunya.”

Ayah menunjuk pintu tengah sambil memonyongkan bibirnya.

Arya mengerti. Ia segera membuka pintu. Sepeda motor kemudian diparkir di dalam ruangan tengah, tepat di dekat ruang makan keluarga.

Arya langsung menghampiri dashboard sepeda motor.

“Kuenya!”

Tangannya mengambil bungkusan kue yang sejak tadi disimpan ayahnya.

“Asyik! Ayah bawa kue!”

Wajah Arya langsung berbinar. Ia duduk menikmati kue sambil sesekali bercerita. Namun tiba-tiba pertanyaan yang sejak tadi ditunggunya kembali muncul.

“Ayah, kapan sepedaku diambil?”

“Besok pagi ya.”

“Janji?”

“Janji.”

“Ayah mandi dulu ya,” kata sang ayah sambil tersenyum.

Setelah mandi, keluarga kecil itu kembali bercengkerama.

Mereka bercerita tentang kejadian siang tadi. Arya bercerita tentang belajar Iqro, les matematika, teman-temannya, dan tentu saja tentang sepeda kesayangannya.

Sepeda itu memang bukan sepeda baru. Bukan pula sepeda mahal. Namun bagi Arya, sepeda itu memiliki cerita sendiri. Sepeda berwarna merah dan hitam tersebut merupakan pemberian sepupunya.

Di bagian sampingnya terdapat tulisan “Commando”.

Cat merahnya sudah tidak lagi mengkilap ketika pertama kali diberikan. Beberapa bagian rangka mulai menunjukkan bekas goresan. Ada sedikit kotoran yang menempel di bagian bawah garpu depan. Pedalnya pun sudah beberapa kali tergores karena sering digunakan bermain.

Tetapi justru itulah yang membuat Arya menyayanginya. Setiap pagi, sepeda itu menjadi teman pertamanya setelah bangun tidur.

Kadang Arya hanya mengelap bagian stangnya dengan kain bekas. Kadang ia memeriksa ban dengan menekan-nekan menggunakan ibu jarinya.

“Masih keras,” gumamnya.

Kalau bannya terasa sedikit kempis, Arya akan segera memberi tahu ayah.

“Ayah, ban sepedaku kayaknya kurang angin.”

Bagi orang lain mungkin itu hanya sepeda tua.Tetapi bagi Arya, sepeda merah-hitam bertuliskan Commando itu adalah kendaraan yang membawanya berkeliling dunia kecilnya.

Dengan sepeda itulah ia belajar menjaga keseimbangan. Dengan sepeda itu pula ia pernah terjatuh, menangis, lalu kembali bangkit dan mencoba lagi.

Sepeda itu pula yang menemaninya ketika berkeliling kampung, melewati halaman tetangga, menyusuri jalan kecil, dan bermain bersama teman-temannya.

Malam semakin larut.

Keluarga kecil itu akhirnya tidur.

***

“Ar­ya, ayo bangun.”

Tangan ayah menepuk pelan kaki kanan anaknya.

“Kita ambil sepedanya.”

Arya menggeliat di atas tempat tidur.

“Iya, Yah.”

Matanya masih berat.

“Nyawaku belum kumpul.”

Ayah tertawa kecil.

“Berapa menit lagi?”

“Lima menit lagi, Yah.”

“Jangan lebih.”

“Hmm... iya.”

Sepeda Arya memang sedang diservis di bengkel sejak kemarin sore.

Tali rem belakangnya putus. Joknya juga harus dinaikkan karena tubuh Arya semakin tinggi. Selain itu, rantainya mulai kendor sehingga kayuhan terasa kurang nyaman.

Bagi ayah, memperbaiki sepeda itu bukan sekadar memperbaiki sebuah kendaraan. Ia ingin Arya bisa bersepeda dengan aman.

***

Sesampainya di bengkel, sepeda merah-hitam itu sudah berada di dekat pintu. Arya langsung menghampirinya. Tangannya memegang stang. Ia melihat roda depan. Kemudian melihat roda belakang. Lalu tangannya menyentuh jok.

“Joknya sudah tinggi, Yah.”

Ayah tersenyum.

“Iya. Coba duduk.”

Arya naik ke atas sepeda.

Kakinya kini bisa menapak dengan nyaman.

“Pas, Yah.” Mekanik kemudian menghampiri.

“Ini sepedanya, Pak.”

“Berapa, Pak?” tanya ayah.

Mekanik menyebutkan biaya perbaikan dan sparepart. Ayah menyerahkan uang.

“Sudah semua?”

“Sudah, Pak.”

“Coba direm dulu,” ujar mekanik.

Arya menarik tuas rem. Cekit! Roda berhenti.

“Sudah pakem,” katanya.

“Rem depan juga sudah saya kencangkan,” tambah mekanik.

Ayah mengangguk.

“Alhamdulillah. Terima kasih, Pak.”

Arya segera naik ke sadel. Tangannya menggenggam stang erat-erat.

“Yuk, Yah!”

Ayah tertawa.

“Pelan-pelan.”

“Siap!”

***

Sepeda merah-hitam bertuliskan Commando itu mulai digowes.

Satu putaran pedal. Dua putaran. Tiga putaran. Roda mulai berputar lebih cepat. Arya tersenyum.

Angin pagi menyentuh wajahnya. Mereka menyusuri jalan di pinggir kali. Jalanan masih berdebu. Beberapa bagian terlihat rusak dan berlubang.

Sepeda Arya meliuk sedikit ke kanan. Kemudian ke kiri. Ketika jalan menanjak, kayuhan menjadi lebih berat.

“Ngos-ngosan, Yah!” teriak Arya.

“Pelan-pelan. Jangan dipaksa.”

Arya terus mengayuh. Saat jalan menurun, justru sepedanya melaju lebih cepat.

“Yah!”

“Apa?”

“Jangan jauh-jauh!”

Ayah yang berada tidak jauh di belakangnya tersenyum.

“Pegang rem!”

“Iya!”

Ayah memperhatikan sepeda merah-hitam itu dengan saksama. Roda belakangnya berputar sempurna. Rantai yang sebelumnya kendor kini kembali rapat. Rem yang kemarin bermasalah kini sudah pakem.

Jok yang sebelumnya terlalu rendah kini sudah menyesuaikan tinggi badan Arya. Sepeda itu seperti kembali mendapatkan nyawanya.

Dan Arya seperti mendapatkan kembali teman bermainnya. Di sebuah persimpangan, ayah berteriak.

“Sebelah kiri!”

Arya segera mengarahkan sepedanya ke kiri.

Dari belakang terdengar suara sepeda motor melaju cukup kencang. Ayah memperlambat laju dan memastikan Arya tetap berada di sisi jalan. Sepuluh menit kemudian, mereka sampai di rumah.

“Mamahhhhh!”

Arya berteriak begitu memasuki halaman.

“Sepedaku sudah jadi!”

Sang ibu keluar dari rumah.

“Sudah selesai?”

“Sudah!”

“Berapa?”

“Tiga puluh ribu,” jawab ayah.

Ibu mengangguk.

“Wah, hari ini nggak ada jajan lagi, ya?”

Arya langsung menoleh.

“Kok nggak ada jajan?”

“Kan uangnya buat servis sepeda.”

Arya terdiam sebentar.

“Oh iya.”

Ia kemudian tertawa.

“Yang penting sepedaku sudah bagus!”

Tidak lama kemudian, Arya kembali menaiki sepeda.

Halaman rumah berubah menjadi lintasan kecil.

Ia berputar ke kiri.

Berbalik ke kanan.

Naik ke teras.

Turun kembali ke halaman.

Masuk ke ruang tengah.

Keluar lagi.

Kemudian mengayuh semakin cepat.

Roda sepeda berputar tanpa henti.

Krek... krek... krek...

Suara rantai terdengar setiap kali pedal diinjak. Kadang Arya berdiri di atas pedal ketika melewati bagian halaman yang sedikit menanjak. Kadang ia duduk kembali sambil tertawa. Sesekali ia membunyikan bel.

Ting... ting...

“Permisi!”

Ayah dan ibu tertawa melihat tingkahnya. Entah sudah berapa putaran Arya mengelilingi halaman. Keringat mulai membasahi rambutnya. Tetapi ia tidak berhenti.

Ia bernyanyi. Ia tertawa. Ia berteriak.

“Sepeda merah hitam!” Tangannya semakin erat menggenggam stang. Tulisan Commando di bagian samping rangka tampak jelas terkena cahaya matahari pagi. Sepeda itu mungkin sederhana. Bukan sepeda mahal. Bukan pula sepeda baru. Namun di mata Arya, sepeda itu istimewa. Itulah sepeda pemberian sepupunya. Sepeda yang mengajarinya menjaga keseimbangan. Sepeda yang pernah membuatnya jatuh dan kembali belajar bangun. Sepeda yang menemaninya bermain. Sepeda yang membuat halaman rumah terasa seperti sebuah lapangan luas.Dan sepeda yang pagi itu kembali membawanya berkeliling bersama tawa kecilnya.


Ayah berdiri di teras sambil memperhatikan.

“Jangan terlalu jauh, Arya!”

“Iya, Yah!”

Arya terus mengayuh. Kali ini lebih pelan. Ia kemudian berhenti tepat di depan ayah.

“Ayah.”

“Iya?”

“Besok kita naik sepeda lagi, ya?"

Ayah tersenyum.

“Besok lagi.”

Arya kembali mengayuh. Satu putaran. Dua putaran.Tiga putaran. Sepeda merah-hitam bertuliskan Commando itu kembali berkeliling halaman. Dan pagi itu, rumah sederhana mereka dipenuhi suara yang paling disukai ayah dan ibu: suara roda sepeda berputar dan tawa anak semata wayang mereka.

Tentang Penulis: Rohim, lahir Bakauheni -Lampung Selatan 19 mei 1981. Ia tinggal di Kabupaten Ponorogo Jawa Timur bersama istri dan anaknya. Kini beliau bekerja sebagai Wartawan pada Media Online Bacamini.com

Posting Komentar untuk "CERPEN ROHIM: SEPEDA KESAYANGAN "