Cerpen Yohan Mataubana

LELAKI ITU AKHIRNYA VIRAL

Ia akhirnya menjadi mayat. Mayatnya dipertontonkan bebas di media sosial. Sementara istrinya menunggu  dengan nasi hangat di siang hari sembari berharap cinta itu tetap hidup  di rumah mereka.

***

Sebelum tubuhnya menjadi berita viral. Pagi itu, lelaki berusia 35 tahun terlihat sudah berada di parkiran motor. Dengan kain putih kecil, ia melap sahabat kesayangannya begitu lembut. Jarinya yang berbekas lengkungan memegang stang, lalu dengan lihai menyusuri setiap lekuk bodi motor, sebuah ritual yang lebih akrab daripada jabat tangan. Sentuhan-sentuhan hangat kepada motornya itu sebetulnya telah mengajarkan cinta dengan tulus. Dia melap motor sambil mengingat pesan semalam dari grup ojol. “Demo-demoan… memangnya bakal didengar?” gumamnya.

Saat itu muncul seseorang dengan langkah tertatih-tatih dari belakangnya. Perempuan itu mengusap matanya seolah-olah mengusap mimpinya semalam. "Mas," suaranya membelah lamunan Barnabas. Serentak tubuh lelaki itu menerima rangsangan manja. Maria merangkul tubuh lelaki yang ia cintai, mengelus-elus dada kekarnya secara perlahan lalu dengan penuh manja mengajak suaminya untuk bermesraan.

"Mas, aku ingin dipeluk."

"Ah, sayang."

Maria merangkulnya. "Jangan lupa pulang dan kita makan siang."

"Hati-hati di jalan. Katanya hari ini ada demo besar-besaran," tambahnya.

Barnabas menelan ludah. “rasanya ada yang mengganjal di sini,” tangannya menepuk dada.

“Jangan ucapkan itu,”Maria meletakkan jari di bibirnya. “pulang tepat waktu, janji.”

Lamunannya melayang pada gulungan poster di sakunya, yang berisi tuntutan yang sama sekali tak didengar. Tuntutan yang sama absurdnya dengan harga beras 20 ribu sekilo yang dikeluhkan Maria minggu lalu, atau segelas botol bensin yang harganya melompat dari sepuluh ribu menjadi dua puluh ribu dalam sebulan. Ia masih merasakan kekesalan saat menyodorkan uang itu kepada anak penjual bensin kemarin, sementara dompetnya kini hanya tersisa selembar foto keluarga dan secarik uang yang tak lagi cukup untuk membeli sekilo beras atau memperbaiki sol sepatu Marta yang nyaris lepas. Kemudian lamunan itu berlalu.  Saat ia sadar istrinya mencubit pelan pinggangnya dengan senyum manja, ia mengecup perempuan itu lalu menghidupkan motornya dan berlalu dari aroma tubuh istrinya.

***

Perjalanan yang awalnya lancar, berakhir di pusat kota. Udara di Kota Merah hari itu terasa menggelora, sebuah pertanda yang ia rasakan seperti sebuah kekejaman, hal itu yang ia temukan saat tiba di gedung putih. Awal-awal jalan ini masih cukup terlihat baik, orang-orang berlalu lalang sewajarnya. Namun ketika Barnabas ingin memeriksa pesanan para penumpang sebagaimana pejuang ojol lainnya, telinganya justru menangkap suara-suara tawahan, suara teriakan dan suara makian membekapnya di tempat itu. Kota Merah pun berubah menjadi lautan manusia. Suara yang biasanya ramai oleh klakson dan deru mesin, kini digantikan oleh gemuruh massa yang menyanyikan amarah. "Bubarkan DPR! Turunkan Presiden!" teriak mereka, bergerak seperti sungai yang meluap.

Awalnya Barnabas masih bisa bermanuver, mencoba mencari celah di sela-sela kerumunan. Tapi massa semakin padat, menyempit seperti dinding hidup yang mendorongnya semakin dalam. Napasnya mulai sesak, bukan karena gas, tapi karena kepanikan yang merayap pelan.

Dari kejauhan, suara orator menggema melalui speaker sederhana: "Mereka naik gaji... kita naik apa? Susah cari makan... anak-anak mau sekolah saja susah!"

Kalimat "anak sekolah" itu menusuknya tepat di ulu hati. Tiba-tiba melintas dalam bayangan matanya,  Marta berdiri di sana, memakai sepatu yang solnya nyaris terlepas. "Ayah, kapan belinya?" Gema suara itu menggodanya lebih dalam dari teriakan massa manapun. Janjinya waktu itu untuk mencari bonus jadi terasa menggigil di tenggorokan. Hatinya tergugah. Ia pun mengeluarkan poster kecilnya, gulungan kertas yang tiba-tiba terasa berat bagai batu. Ia memutuskan untuk tinggal, setidaknya sebentar.

"Eh, Bang Barnabas! Saya kaget lihat Bang di sini!" teriak Simon, menyapa dari kerumunan. Wajahnya yang biasanya ceria karena mengejar setoran, kini penuh dengan semangat berbeda. Sorban merah-putih terikat di kepalanya, dan bendera kecil di tangannya berkibar-kibar seperti semangatnya yang tak biasa.

"Bukan rencana, Simon. Saya terjebak. Mau cari jalan keluar saja," jawab Barnabas, suaranya hampir tenggelam dalam riuh.

"Jangan keluar, Bang! Ini demo untuk kita!" Simon mendekat, matanya berbinar. "Kemarin saya lihat Bang beli bensin eceran, kan? Liat sendiri harganya gila-gilaan! Ini siapa yang salah? Daripada online cuma dapat pesanan 'demo', mending demo yang beneran buat dapat keadilan!" Kata-kata Simon menusuk tepat pada jantung Barnabas, dan mengubah rasa terjebak itu menjadi setitik kesadaran. Barnabas tersenyum kecut. Ia melihat sesama ojol lainnya, mereka yang biasanya sibuk dengan aplikasi, kini berdiri bersama, bersatu oleh satu harapan yang sama. Awalnya, suasana masih tertib. Massa bergerak perlahan, diatur oleh para koordinator. Barnabas dan Simon tetap bersama, motornya menjadi penanda di tengah kerumunan.

Menjelang beberapa menit, saat Barnabas hendak berbalik melihat ke arah kiri lalu ke kanan sekadar memastikan keamanan di sekitar, suasana perlahan-lahan berubah. Orang-orang mulai berlarian di pinggir jalan, dilihatnya seorang anak seusia Marta. Dadanya tersentak, ingin berlari merangkul anak itu yang dihimpit oleh kerumunan massa. Di kejauhan, telinganya menangkap suara-suara samar yang seakan mendesak orang-orang untuk bubar, perlahan-lahan didengarnya suara sirine yang kecil namun beberapa saat kemudian suara raungan sirine itu membesar dan membentak mereka dari depan.

Seperti udara yang mendadak sesak sebelum petir menyambar. Suara letusan memecah konsentrasi. Asap putih—gas air mata—mulai mengepul dari berbagai arah. Sungai yang deras tadi berubah menjadi pusaran yang panik.

"Bubar! Bubar! Atau kalian mau mati..." teriak seorang polisi yang berjaga, tapi suaranya hilang dalam deru ketakutan massa yang berhamburan.

"Simon! Kita harus keluar dari sini!" teriak Barnabas, matanya sudah perih.

"Tidak bisa, Bang! Mereka sudah mengurung kita seperti binatang!" balas Simon. Wajahnya yang tadi bersemangat kini memucat. Dia memandang Barnabas, dan untuk pertama kalinya, Barnabas melihat ketakutan yang sama di mata temannya. "Ini... ini lebih menyeramkan dari yang saya bayangkan."

Saat itulah, sebuah dorongan dari belakang memisahkan mereka. "BERTAHAN BANG!" teriak Simon sebelum suaranya hilang ditelan gemuruh massa yang panik dan hiruk-pikuk amukan. Tangan yang tadinya memegang bendera kecil, kini mengayun-ayun tak berdaya sebelum akhirnya lenyap dari pandangan Barnabas.

Barnabas mencoba memutar motornya. Instingnya sebagai ojol yang lihai menembus kemacetan tiba-tiba lumpuh. Ia terjepit. Di depannya, barisan polisi dengan perisai. Di belakangnya, massa mendorong tanpa arah. Di sampingnya, sesama pengendara yang matanya melotot, diliputi naluri antara hidup dan mati.

Teriakan massa dari seluruh penjuru membuatnya cemas. Simon yang sedari tadi berada di sisi kirinya hilang ditelan suara-suara amukan. Barnabas tersisa seorang diri, tepat pada garis kuning jalan. Dia melihat sebutir granat gas air mata mendarat beberapa meter di depannya, berputar-putar dengan malas sebelum mengeluarkan asapnya yang menyiksa. Matanya perih. Napasnya sesak.

Lalu, datanglah benda itu. Sebuah kendaraan besar berwarna hitam—mungkin truk, mungkin kendaraan aparat—melaju dengan buta, menerobos kerumunan. Ia tengok ke kiri lalu ke kanan untuk memastikan jalan keluar aman. Tapi saat ia ingin mengambil kendali motor, sebuah hantaman dahsyat menghajar tubuhnya dari samping tepat pada punggung dan pinggulnya. Suara tulang yang retak, hancur, seperti kayu kering diinjak. Tubuhnya terlempar dari motor tuanya, jatuh ke aspal yang panas.

Di atas aspal yang semakin panas, pikiran Barnabas melayang meninggalkan rasa sakit. Bau wangi sampo Maria pagi tadi lebih nyata daripada bau keringat dan gas air mata. Tawa Marta yang renyah seperti bel berdenging di telinganya, mengalahkan gemuruh keributan. Dia berusaha menggerakkan tangan kanannya—tangan yang tadi pagi mengelus pipi Maria—tapi yang terasa kini hanyalah dingin yang merambat dari kakinya, seperti air bah yang tak bisa dibendung.

"Maafkan aku, Maria... Marta..." desisnya, sisa udara dari paru-paru yang mulai robek. "Aku... janji... sepatu..." Air mata terakhirnya merekah, melihat bayangan mereka bertiga saat bercanda di rumah. Dia tersenyum getir pada bayangan itu. Dan saat gelap menyapu semuanya, dia melihat wajah-wajah yang tidak dikenalnya membungkuk di atasnya. Ada yang berteriak memanggil ambulans. Ada yang merekam dengan ponsel. Ada yang hanya menatap, matanya kosong.

Setelah bayangan itu menghilang, yang tersisa hanyalah angin panas yang menyapu aspal, dan sebuah nama—'Maria'—yang menggantung di udara, tak pernah sampai ke telinga siapa-siapa.

***

Ketika ambulans datang—setelah segalanya sudah terlalu sunyi—seorang relawan muda. Tangannya yang masih berusia 20 tahun itu gemetar; ini adalah mayat pertama yang disentuhnya sejak jadi relawan dua hari. Relawan itu membalikkan tubuh Barnabas. Di saku seragam ojolnya, ada dompet seukuran telapak tangan bertuliskan nama Barnabas. Ia kaget begitu melihat selembar uang merah pudar dan  foto Barnabas dengan istrinya, Maria, dan anaknya bernama Marta, tersenyum ceria dibingkai oleh plastik yang sudah buram.

Dengan tangan gemetar, relawan itu memungut handphone yang tergeletak di samping Barnabas. Jantung relawan itu berdebar. Dia menghubungi nomor orang terakhir yang dihubungi. Di ujung telepon, suara Simon yang lesu menjawab: "Halo? Iya, ini Simon."

"Permisi, Pak... Saya dari tim relawan. Apakah Bapak kenal dengan Bapak Barnabas?"

Diam sejenak. Lalu, dari speaker telepon, terdengar suara tarikan napas yang kasar dan dalam, seperti seseorang yang ditikam.

"Dia... dia kenapa?" Tanya Simon, suaranya serak.

"Mohon maaf, Pak... Beliau telah meninggal dalam insiden demo tadi."

Diam yang menyiksa menggantung di telepon. Lalu, yang terdengar bukan tangis, melainkan sebuah erangan panjang yang menyayat lubuk hatinya.

"Tidak... Oh, Tidak, Bang..." gumam Simon, hampir tak terdengar. "Dua hari lalu... dia bilang... 'Simon, kalau saya mati, jaga Maria dan Marta.' saya kira dia bercanda... saya pikir itu hanya luapan lelah..."

Kini, Simon yang tak berdaya di ujung telepon itu memahami segalanya. Itu bukan lelah; itu adalah firasat. Dan janjinya kepada Barnabas yang telah tiada, kini menjadi beban sekaligus amanah terberat dalam hidupnya.

Di tempat lain, telepon itu berdering tepat ketika Maria sedang memegang sendok nasi yang hendak ia tambahkan ke piring suaminya. Nasi yang selalu ia sisihkan dari porsi sendiri, agar Barnabas bisa makan lebih banyak. Tiba-tiba suara itu membuat tubuhnya membeku. Sendok itu jatuh, berdentum di lantai, nasi berserakan. Ia tak bergerak, matanya terbuka lebar dan kosong menatap foto pernikahan mereka. Barulah kemudian, bukan isak, bukan ratap, tapi banjir diam yang mengalir perlahan-lahan lalu membasahi wajahnya yang sejak kecil diajarkan ayahnya untuk selalu tegar—‘Jangan menangis, Maria, air mata tidak menyelesaikan masalah’—namun kini, ia tak kuasa menahannya.

“Marta... Marta..”

“ia mama.”

Perempuan berwajah tulus itu keluar dari kamarnya. Ditatap wajah ibunya yang kini sedang memancarkan ketakutan. Ia segera berlari memeluk ibunya, diletakkannya tangan kiri pada pipi ibunya, lalu mengusap-usap wajah ibunya tanpa satu katapun selain larut pada kesedihan yang sama dirasakan perempuan yang sudah melahirkannya.

***

Sudah hampir sore, Kota Merah masih mencekam. Di tempat lain, orang-orang lalu lalang dengan hidup mereka, tak sadar bahwa bagi seorang Barnabas, semua suara itu telah berhenti. Mereka datang menggunakan iPhone lalu merekam peristiwa itu. Kini tubuhnya tak lebih dari video viral yang berseliweran di media massa, sebelum akhirnya tenggelam ditelan data penting negara.

Dan akhirnya, yang tersisa hanyalah kenangan bagi Maria dan Marta, serta sebuah poster yang tak pernah terbaca—tertiup angin, tersangkut di antara sampah, lalu hilang ditelan debu jalanan Kota Merah, persis seperti nyawa seorang Barnabas.

 

Biodata

Yohan Mataubana. Lahir di Kupang. Buku terbarunya Tanda Kurban yang Dinamakan Cinta (2024).

 

Posting Komentar untuk "Cerpen Yohan Mataubana"