Erupsi Anak Krakatau Tutup Bandara Soetta, 22.798 Penumpang Terdampak
JAKARTA — Erupsi Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda berdampak langsung terhadap aktivitas penerbangan di Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta (Soetta). Demi keselamatan penerbangan, operasional bandara ditutup sementara pada Minggu (6/9/2026), menyusul potensi sebaran abu vulkanik dari aktivitas erupsi gunung api tersebut.
Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan Lukman F. Laisa mengatakan, berdasarkan NOTAM Nomor A3341/26, Bandara Internasional Soekarno-Hatta ditutup sementara mulai pukul 01.30 WIB hingga 09.30 WIB. Penutupan dilakukan sebagai langkah antisipasi terhadap kondisi ruang udara yang dinilai dapat memengaruhi keselamatan penerbangan.
Dampaknya cukup besar. Kementerian Perhubungan mencatat sebanyak 209 penerbangan dan 22.798 penumpang terdampak akibat penghentian sementara operasional bandara. Untuk penerbangan internasional, tercatat 16 pembatalan, tujuh penundaan, dan lima penerbangan dijadwalkan kembali. Sementara pada penerbangan domestik terdapat empat pembatalan dan satu penerbangan yang dialihkan.
Erupsi Gunung Anak Krakatau sendiri terus mengalami aktivitas sejak Jumat (4/9) malam hingga Sabtu (5/9) pagi. Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral mencatat adanya aktivitas erupsi yang disertai semburan material pijar yang menyerupai air mancur lava. Pada Minggu (6/9), status Gunung Anak Krakatau masih berada pada Level III atau Siaga.
Bagi dunia penerbangan, persoalan utama dari erupsi gunung api bukan hanya material yang jatuh ke permukaan bumi, tetapi juga abu vulkanik yang dapat terbawa angin ke wilayah yang jauh dari pusat erupsi. Partikel tersebut dapat mencapai ketinggian yang menjadi jalur penerbangan sehingga menimbulkan risiko terhadap pesawat yang melintas.
Mantan Kepala Dinas Penerangan TNI Angkatan Udara, Marsma TNI (Purn) Agung Sasongkojati, menjelaskan bahwa abu vulkanik merupakan salah satu ancaman serius bagi pesawat, baik pesawat kecil maupun pesawat berbadan besar. Partikel abu mengandung material mineral, termasuk silika, yang memiliki karakteristik abrasif dan dapat menimbulkan kerusakan ketika masuk ke dalam mesin pesawat.
Risiko terbesar muncul ketika abu vulkanik masuk ke mesin pesawat bermesin turbin. Pada temperatur tinggi di dalam mesin, partikel tertentu dapat meleleh dan kemudian menempel pada komponen mesin. Kondisi itu dapat mengganggu aliran udara dan proses pembakaran, bahkan dalam kondisi tertentu menyebabkan penurunan tenaga mesin hingga flameout, yaitu kondisi ketika mesin kehilangan pembakaran dan berhenti menghasilkan daya.
Bahaya abu vulkanik juga tidak hanya mengancam mesin. Partikel tersebut dapat mengikis kaca depan kokpit, mengurangi visibilitas pilot, serta mengganggu sejumlah sensor dan sistem pesawat. Persoalannya semakin serius karena awan abu vulkanik tidak selalu mudah terlihat, terutama pada malam hari atau dalam kondisi atmosfer tertentu, sehingga pesawat dapat berhadapan dengan bahaya yang sulit dideteksi secara visual.
Karena itu, penerbangan memiliki prinsip utama untuk menghindari awan abu vulkanik, bukan menerobosnya. Informasi mengenai lokasi erupsi, ketinggian kolom abu, arah penyebaran, konsentrasi abu, serta kondisi angin menjadi sangat penting bagi pengatur lalu lintas udara dan maskapai dalam menentukan rute penerbangan. Penundaan, pengalihan, hingga pembatalan penerbangan dapat dilakukan apabila kondisi ruang udara dinilai tidak aman.
Penutupan sementara Bandara Soekarno-Hatta pada akhirnya menunjukkan bahwa erupsi gunung api tidak hanya menjadi persoalan di sekitar kawah, tetapi juga dapat berdampak terhadap sistem transportasi udara. Bagi 22.798 penumpang yang terdampak, keputusan tersebut berarti perubahan jadwal hingga pembatalan perjalanan. Namun bagi keselamatan penerbangan, waktu tunggu dan perubahan jadwal merupakan konsekuensi yang jauh lebih kecil dibandingkan risiko menerbangkan pesawat ke dalam wilayah yang terpapar abu vulkanik. (Choirul Rochman)
Posting Komentar untuk "Erupsi Anak Krakatau Tutup Bandara Soetta, 22.798 Penumpang Terdampak"