Ponorogo Book Party Kembali Digelar, Bedah Buku Kalajengking Bandaran Hadirkan Penulis Langsung
PONOROGO – Semangat literasi di kalangan masyarakat dan generasi muda Ponorogo terus tumbuh. Hal itu terlihat dalam kegiatan Ponorogo Book Party yang kembali digelar pada Minggu (13/9/2026) di Toko Buku & Kedai Flavora, Jalan Letjend Suprapto, Ponorogo.
Mengusung tema “Weekend Special Mates”, kegiatan kali ini menghadirkan agenda khusus berupa bedah buku Kalajengking Bandaran bersama penulisnya langsung, Dr. Ardi Wina Saputra, M.Pd.
Kegiatan berlangsung mulai pukul 08.30 hingga 12.00 WIB. Sebanyak 23 peserta hadir dan mengikuti rangkaian acara yang dikemas sebagai ruang membaca, edukasi, diskusi sekaligus kolaborasi.
Peserta yang hadir berasal dari beragam latar belakang, di antaranya mahasiswa dan karyawan swasta. Keragaman tersebut membuat diskusi berlangsung lebih dinamis karena setiap peserta membawa pengalaman dan sudut pandang yang berbeda.
Dalam sesi bedah buku, peserta diajak mengenal lebih dekat Kalajengking Bandaran, antologi cerpen karya Dr. Ardi Wina Saputra, M.Pd. yang diterbitkan oleh Beranda.
Buku setebal 188 halaman tersebut mengangkat beragam persoalan sosial dan kehidupan kelompok marginal yang kerap tersisih dari narasi utama masyarakat. Sejumlah cerita di dalamnya menggambarkan realitas kehidupan urban, ketimpangan, kekuasaan, serta pergulatan manusia yang berada di pinggiran kehidupan sosial.
Tokoh Rosella menjadi salah satu karakter yang menarik perhatian dalam buku tersebut. Melalui karakter dan berbagai cerita yang dihadirkan, pembaca diajak melihat realitas sosial dari perspektif yang berbeda.
Sastra dalam konteks tersebut tidak hanya menjadi karya untuk dinikmati, tetapi juga menjadi ruang untuk merekam realitas kehidupan masyarakat. Berbagai persoalan yang terkadang luput dari perhatian publik dapat disuarakan melalui karya sastra.
Salah satu bagian dalam buku tersebut kemudian menjadi pemantik diskusi mengenai karakter, kehidupan tokoh, serta realitas sosial yang diangkat penulis. Peserta diberi ruang untuk menyampaikan pertanyaan, pandangan, maupun pengalaman yang berkaitan dengan tema yang dibahas.
![]() |
| Sebanyak 23 peserta hadir dan mengikuti rangkaian acara yang dikemas sebagai ruang membaca, edukasi, diskusi sekaligus kolaborasi. |
Selain peserta umum, Forum Taman Baca Masyarakat Ponorogo (FTBM) juga turut aktif dalam kegiatan tersebut. Kehadiran FTBM menambah warna dalam diskusi, khususnya melalui pertukaran pandangan mengenai pengembangan budaya baca dan pentingnya menyediakan ruang literasi yang dekat dengan masyarakat.
Ponorogo Book Party sendiri tidak hanya berfokus pada aktivitas membaca. Komunitas ini secara rutin menghadirkan ruang bertemu bagi masyarakat yang memiliki ketertarikan terhadap buku, membaca, diskusi, dan berbagai gagasan.
Kegiatan tersebut juga memiliki konsep berpindah-pindah tempat. Setiap agenda rutin digelar pada hari Minggu dengan lokasi yang berbeda. Pada pekan sebelumnya, kegiatan dilaksanakan di kawasan Taman Alun-Alun Ponorogo.
Dalam setiap pertemuan, peserta juga didorong membawa buku masing-masing untuk dibaca dan didiskusikan bersama. Konsep tersebut membuat kegiatan terasa lebih terbuka sekaligus memberikan kesempatan kepada peserta untuk saling mengenal, bertukar gagasan, dan membangun jejaring.
Shofiyah Nahda, selaku inisiator Ponorogo Book Party, mengatakan kegiatan kali ini memberikan pengalaman tersendiri karena peserta yang hadir berasal dari latar belakang yang semakin beragam.
Menurutnya, pertemuan antara orang-orang dengan pengalaman dan sudut pandang berbeda justru menjadi bagian penting dalam membangun budaya membaca dan berdiskusi.
“Alhamdulillah event hari ini banyak teman-teman baru yang bervariasi asalnya. Senang bisa berbagi pandangan yang menjadi banyak pengaruh untuk menjadi otentik seperti yang dikatakan penulis. Semakin banyak sudut pandang yang memengaruhi, keotentikan diri akan muncul,” ujar Shofiyah.
Ia menambahkan, kegiatan membaca dan berdiskusi secara tidak langsung mendorong peserta untuk berani memunculkan pertanyaan maupun menyampaikan pendapat.
“Semangat untuk membaca dan berdiskusi semakin terbangun, karena secara tidak langsung memunculkan pertanyaan-pertanyaan dan pernyataan dari kita,” imbuhnya.
Menurut Shofiyah, keberadaan ruang seperti Ponorogo Book Party penting untuk menjaga agar budaya membaca tidak berhenti pada aktivitas membaca secara individual. Buku dapat menjadi pintu masuk untuk bertemu, berdiskusi, saling bertukar pandangan, sekaligus membangun jejaring antarpembaca.
Sementara itu, Toko Buku & Kedai Flavora yang menjadi lokasi kegiatan menyediakan ruang baca, edukasi, diskusi dan kolaborasi, sekaligus menghadirkan koleksi buku yang dapat dinikmati pengunjung.
Dalam kegiatan tersebut, salah satu pesan yang disampaikan penulis, Dr. Ardi Wina Saputra, juga menjadi perhatian peserta. Pesan tersebut menegaskan pentingnya sastra sebagai ruang untuk menyuarakan berbagai realitas kehidupan.
“Ketika jurnalis dibungkam, sastra yang akan berbicara.”
Pesan tersebut menjadi salah satu refleksi dalam kegiatan Ponorogo Book Party kali ini. Sastra dipandang tidak hanya sebagai karya seni dan hiburan, tetapi juga sebagai media untuk merekam zaman, menyampaikan kegelisahan, serta menghadirkan suara dari mereka yang mungkin tidak memiliki ruang dalam pemberitaan maupun narasi arus utama.
Keterlibatan berbagai elemen, termasuk komunitas pembaca dan FTBM, menunjukkan bahwa gerakan literasi dapat tumbuh melalui kolaborasi. Ruang membaca tidak harus berlangsung secara formal, tetapi dapat dikembangkan menjadi ruang perjumpaan yang memungkinkan masyarakat saling berbagi pengetahuan dan perspektif.
Melalui kegiatan yang rutin digelar setiap Minggu dan berpindah dari satu lokasi ke lokasi lainnya, Ponorogo Book Party berupaya membangun ekosistem literasi yang lebih terbuka dan dekat dengan masyarakat.
Semangat yang dibawa pun sederhana: membaca tidak harus menjadi aktivitas yang membosankan. Ketika dilakukan bersama, membaca dapat menjadi pintu untuk bertemu dengan banyak orang, menemukan perspektif baru, dan melahirkan diskusi yang memperkaya wawasan.
“Baca buku lebih asyik bareng komunitas.”
Ponorogo Book Party menjadi salah satu ruang alternatif bagi masyarakat untuk merawat tradisi membaca sekaligus membangun kebiasaan berdiskusi. Kehadiran peserta dari berbagai latar belakang serta keterlibatan komunitas literasi menunjukkan bahwa budaya membaca masih memiliki ruang untuk terus tumbuh dan berkembang di Ponorogo.
🖊️Jurnalis Rohim.



Posting Komentar untuk "Ponorogo Book Party Kembali Digelar, Bedah Buku Kalajengking Bandaran Hadirkan Penulis Langsung"