Jagoan Kecilku Sakit Karya Rohim
Setelah selesai liputan di Desa Mlarak, Kabupaten Ponorogo, aku segera pulang. Hari mulai beranjak sore ketika sepeda motor tua yang kukendarai memasuki halaman rumah. Belum sempat mesin benar-benar berhenti, suara yang begitu kukenal sudah terdengar dari pintu samping rumah.
“Ayaaaaaaah!”
Arya, anak semata wayangku, berlari menyambut kepulanganku. Suara mesin sepeda motor tua itu seolah menjadi tanda bahwa ayahnya sudah pulang.
“Mana kuenya, Ayah?” Itulah kalimat yang hampir selalu ia ucapkan setiap kali aku hendak berangkat bekerja.
“Ayah pergi dulu, ya,” pamitku setiap pagi.
Dan jawabannya hampir selalu sama, “Kalau ada kue, bawain buat aku ya, Ayah.”
Aku tersenyum mengingatnya. “Ada. Ini di tas. Sebentar, Ayah parkir motor dulu.”
“Iya, Ayah.”
Meski mesin motor sudah kumatikan, roda sepeda motor itu masih bergerak perlahan menuju ruang makan. Aku mendorongnya dengan kaki kiri sampai benar-benar berada di tempat parkir, sementara Arya tetap mengikuti dari belakang.
Setelah turun dari motor, tanganku segera membuka ritsleting tas kecil yang biasa kubawa bekerja. Di dalamnya ada handphone, bolpoin, surat tugas, dan dua buah kue kecil.
“Nih, satu buat kamu. Yang satu buat Mamah.”
“Iya, Ayah. Makasih.” Arya langsung membuka plastik pembungkus kue dan melahapnya.
Sebenarnya kue itu bukan kubeli di jalan. Kue tersebut adalah hidangan yang disuguhkan narasumber ketika aku melakukan wawancara. Namun, setiap kali melihat ada kue, aku selalu teringat pesan anakku.
"Kalau ada kue, bawain buat aku ya, Ayah. Kalau nggak ada, Ayah belikan di warung.”
Kalimat sederhana itu selalu terngiang di telingaku. Maka, setiap kali mendapat hidangan kue saat liputan, sebisa mungkin kusisihkan dua buah untuknya. Bukan karena harganya, tetapi karena ada kebahagiaan tersendiri ketika melihat wajah kecilnya berseri saat menerima oleh-oleh dari ayahnya.
Tak sampai beberapa menit, kue itu sudah habis.
“Ayah mandi dulu, ya.”
“Iya, Ayah.”
Malam mulai datang.
Setelah mandi, kami makan bersama di meja makan. Selesai makan, kami bertiga masuk ke kamar. Seperti biasa, ada obrolan kecil, canda sederhana, dan kebersamaan yang mungkin terlihat biasa, tetapi justru menjadi bagian paling berharga dalam sebuah keluarga.
Namun, malam itu berbeda.
“Ayah, aku batuk. Badanku panas.”
Aku langsung menoleh. “Kenapa? Tadi siang makan apa? Minum apa?”
Mamah menjawab dari samping, “Tadi siang panas banget. Arya beli minuman sachet itu, Yah.”
Aku menghela napas. “Nah, kan. Ayah sudah bilang, jangan jajan sembarangan.” Aku kemudian teringat kebiasaan orang tua di rumah. “Dikerok saja? Minyaknya mana? Koinnya mana?”
“Aku nggak mau pakai koin, Ayah. Pakai bawang merah saja,” pinta Arya.
Mamah kemudian mengambil bawang merah dari dapur. Arya berbaring telentang, dan drama kecil pun dimulai. Ketika punggungnya mulai dikerok menggunakan bawang merah yang diberi sedikit minyak kayu putih, tubuh mungil itu langsung bergeliat.
“Sakit, Mamah!”
“Ini Mamah sudah pelan-pelan.”
“Sakiiit!”
Melihat Arya tidak nyaman, aku segera berkata, “Sudah, jangan terlalu keras. Dibalur saja pakai minyaknya.”
Mamah akhirnya membalurkan minyak kayu putih ke punggung, dada, perut, dan telapak kaki Arya. Kami berharap setelah itu ia bisa tidur nyenyak. Namun, harapan itu tidak terjadi.
Malam semakin larut. Arya berkali-kali terbangun. Batuk, menangis, muntah, lalu tertidur sebentar, dan kemudian terbangun lagi. Panas tubuhnya semakin tinggi.
Mamah mengambil handuk kecil, membasahinya dengan air hangat, lalu mengompres dahi Arya. Sesekali bagian lehernya juga dikompres.
Aku duduk di sampingnya. Tangan kananku mengelus punggungnya perlahan, sementara tangan kiriku menempel di dadanya. Entah kenapa, dalam hati aku berharap panas yang ada di tubuh kecil itu bisa berpindah kepadaku.
“Sudah, Nak. Tidur. Ayah di sini.”
Malam terasa begitu panjang. Bangun, batuk, menangis, tidur, lalu bangun lagi. Begitu terus sampai pagi mulai mendekat.
“Kita bawa ke puskesmas saja,” kataku kepada Mamah.
Arya yang mendengar percakapan itu langsung menjawab lirih, “Aku nggak mau. Lama antreannya.”
“Kalau pagi belum ramai. Ini baru jam tujuh. Puskesmas buka jam delapan. Kita berangkat sekarang supaya tidak antre.”
Akhirnya kami bertiga bersiap. Sepeda motor tua kembali menjadi kendaraan keluarga kami. Pagi itu, motor melaju perlahan menyusuri jalan beraspal menuju arah pusat Kota Ponorogo. Sekitar lima kilometer kemudian, kami sampai di Puskesmas Ronowijayan.
Aku memarkirkan sepeda motor lalu kami turun. Kartu Indonesia Sehat yang kusimpan di dalam tas kecil segera kukeluarkan dan kuserahkan kepada petugas pendaftaran.
“Demam, panasnya tinggi, batuk juga. Mau ke poli anak,” jawabku ketika petugas menanyakan keluhan Arya.
“Baik, ditunggu sebentar ya, Pak.”
Setelah proses registrasi selesai, petugas menyerahkan kertas pendaftaran:
Tiket kunjungan Klaster 2, nomor antrean DA-0006, tanggal 30-09-2026, pukul 08.13.41.
Kami kemudian duduk di bangku depan ruang Klaster 2. Di sana sudah ada beberapa anak lain yang juga ditemani orang tuanya. Di atas pintu tertulis: Cluster 2 – KIA.
Beberapa menit kemudian, suara panggilan terdengar melalui pengeras suara.
“Arya... masuk ruang satu.”
“Ayo, Nak.” Aku menuntun Arya sementara Mamah membukakan pintu.
“Keluhannya apa?” Suara dokter terdengar ramah. Dokter Lusia Cahyanti Yohana Kusuma Wardhany—yang biasa dipanggil Dokter Yohana—menyambut kami.
“Demam, Dok. Panas sejak kemarin sore,” jawab Mamah.
“Muntah juga sudah dua kali. Batuk juga,” tambahku.
“Ayo, ditimbang dulu badannya.”
Seorang petugas membantu Arya naik ke timbangan. “31,75 kilogram, Dok.”
Kemudian tinggi badannya diukur. “128 sentimeter.”
Dokter mulai memeriksa. “Awalnya bagaimana?” tanyanya sambil menempelkan stetoskop ke dada Arya. Suhu tubuhnya kembali diperiksa.
“Empat puluh,” kata petugas.
Dokter mengangguk pelan. “Panasnya cukup tinggi.” Ia menatap Arya yang duduk diam di hadapannya. “Ini nanti minum puyer, bisa?”
Arya mengangguk pelan.
“Sekolah di mana?”
“Aku sekolah online,” jawab Arya lirih.
“Coba buka mulutnya.” Dokter mengarahkan senter kecil untuk melihat kondisi mulut dan lidahnya. Setelah itu, resep mulai ditulis.
“Dok, perutnya juga sakit,” kataku.
“Coba naik ke ranjang, kita periksa.”
Arya dibantu menuju ranjang pemeriksaan. Di ruangan Klaster 2 itu ada beberapa petugas yang menjalankan tugas masing-masing; dokter, bidan, petugas administrasi, serta petugas magang.
Setelah pemeriksaan selesai, Dokter Yohana memberikan penjelasan. “Pak, obatnya nanti diminum sesuai aturan. Kita lihat sampai hari Jumat. Kalau belum ada perubahan, datang lagi. Nanti mungkin perlu cek laboratorium. Kita juga perlu waspada terhadap kemungkinan DBD. Biasanya beberapa hari perjalanan penyakit baru lebih terlihat. Kalau membaik, tidak perlu kontrol lagi.”
“Baik, Dok. Terima kasih.”
Kami duduk di depan apotek yang letaknya berhadapan dengan Klaster 2, tak jauh dari ruang laboratorium di ujung lorong. Aku meletakkan resep di wadah kecil bertuliskan: RESEP LETAKKAN DI SINI.
“Iya, Pak. Ditunggu, ya,” kata petugas.
Aku kembali keluar dan duduk bersama Arya dan Mamah. Sekitar tiga puluh menit kemudian, terdengar panggilan atas nama Arya.
“Atas nama Arya,” kataku kepada petugas apotek.
“Iya, ini obatnya.” Petugas menjelaskan aturan minumnya. “Yang ini diminum dua kali sehari setelah makan. Yang ini antibiotik, diminum tiga kali sehari setelah makan dan harus dihabiskan.”
“Baik. Terima kasih.”
Obat puyer itu dibungkus kertas kecil dengan nama pasien dan aturan minum. Di bagian kemasan tertulis Puskesmas Ronowijayan. Kami pun segera pulang.
Sepeda motor melaju perlahan menempuh jarak lima kilometer selama sepuluh menit. Sesampainya di rumah, Arya langsung menuju tempat tidur. Aku membantu melepas jaketnya, sementara Mamah bergegas ke dapur mengambil nasi dan telur rebus yang dimasak pagi tadi.
“Aku nggak mau makan. Nggak lapar.”
“Ayo dimakan dulu. Satu sendok saja, nanti minum obat supaya cepat sembuh.” Mamah mencoba menyuapkan nasi yang dicampur potongan telur.
“Sudah. Nggak mau.”
“Telurnya saja?”
Arya mengunyah sedikit. Namun, tak lama kemudian makanan itu kembali dimuntahkan. Perutnya terasa mual.
“Sudah, minum obatnya saja.”
Serbuk obat dituangkan ke sendok makan, diberi sedikit air, lalu diaduk. Mamah menyuapkannya ke mulut Arya.
“Minum,” bisik bibir kecil itu setelah menelan obatnya. Aku segera memberikan air putih.
“Sudah. Tidur ya, supaya cepat sembuh.”
Sebenarnya aku harus kembali bekerja hari itu. Namun, ketika hendak berangkat, Arya menggenggam tanganku erat.
“Ayah jangan pergi.”
“Kenapa?”
“Temenin aku.”
Akhirnya aku memutuskan untuk tetap di rumah. Sepanjang siang hingga sore itu, kami setia menemani Arya.
Malam kembali datang dan terasa semakin panjang.
Tidur, bangun, batuk, muntah, dan menangis. Panas tubuhnya kembali meninggi. Berkali-kali aku menempelkan punggung tangan ke keningnya, kadang ke leher dan pipinya.
“Alat ukur kita ada dua, tapi dua-duanya rusak,” gumam Mamah. Ia lalu teringat alat pengukur suhu model tembak (thermogun) yang dibeli saat masa pandemi. “Ini masih bisa dipakai nggak, ya? Tapi baterainya nggak ada.”
“Coba Mamah beli baterai dulu di warung sebelah.”
Mamah pun keluar.
“Mamah mana?” tanya Arya setengah mengigau.
“Lagi ke warung. Beli baterai.”
Setelah baterai terpasang, alat itu diarahkan ke dahi Arya.
Tit.
Angka muncul: 32.
Mamah mengernyitkan dahi. “Ini error. Masa panas begini suhunya 32?” Kami hanya bisa saling memandang dengan raut khawatir.
Kamis dini hari, sekitar pukul lima pagi. Kondisi Arya semakin membuat kami cemas. Ia tidur tidak tenang, sesekali terbangun dan bicaranya mulai melantur.
“Mamah... Mamah...” Ia menunjuk ke arah bantal guling. “Itu besar sekali. Aku nggak mau.”
Aku menatapnya bingung. “Mana?”
“Itu...” Ia menunjuk lemari di pojok kamar.
“Itu lemari, Nak. Sudah lama ada di situ.”
Arya semakin mengigau. Suhu tubuhnya begitu tinggi. Tiba-tiba Mamah melihat sesuatu yang membuatnya panik.
“Ayah, coba lihat tangannya.”
Aku mendekat. “Kok telapak tangannya kuning?”
Aku langsung mengambil keputusan teguh. “Kita ke rumah sakit. Mamah, siap-siap. Mandi, ganti baju. Siapkan baju ganti, handuk, sabun, dan sikat gigi.”
Mamah bergegas beranjak dari tempat tidur.
“Mamah mana?” rengek Arya.
“Mamah mandi. Kita nanti ke rumah sakit.”
“Nggak mau...” Arya mulai menangis. “Aku nggak mau, Ayah.”
“Kita ke rumah sakit supaya kamu cepat sembuh.”
Pagi itu, sepeda motor tua kembali dinyalakan. Aku membonceng Mamah dan Arya menuju rumah sakit swasta di pusat Kota Ponorogo. Sekitar lima belas menit kemudian, kami tiba di depan IGD.
Seorang petugas keamanan segera datang membawa kursi roda. Arya diturunkan dan didudukkan di atasnya.
“Ini kenapa anaknya, Pak?”
“Demam tinggi, Pak.”
Kursi roda didorong masuk ke IGD. Arya dibaringkan di ranjang medis sebelum dokter jaga menghampiri kami.
“Ini kenapa?”
“Demam tinggi, Dok. Batuk juga. Sudah empat kali muntah.”
“Diare?”
“Nggak ada, Dok.”
Dokter memeriksanya dengan stetoskop lalu bertanya, “Ini mau dirawat di sini atau rawat jalan saja?”
“Dirawat saja, Dok.”
“Kalau dirawat, kamar yang kosong saat ini belum ada. Nanti siang kemungkinan ada pasien yang pulang.”
“Baik, kami tunggu. Tapi kalau bisa langsung diinfus dulu, Dok.”
Dokter mengangguk dan mengarahkan kami untuk mengurus pendaftaran. Aku bergegas ke bagian administrasi. Rumah sakit itu memiliki moto: Layananku, Ibadahku.
Setelah proses administrasi selesai, aku kembali ke IGD. Beberapa menit kemudian, dokter dan dua perawat datang membawa peralatan medis. Melihat alat-alat itu, wajah Arya langsung berubah pucat.
“Aku nggak mau! Aku nggak mau!” Tangisnya pecah.
Perawat memegang tangan kirinya, Mamah memegang kedua kakinya, dan aku menggenggam tangan kanannya erat-erat.
“Tenang, Nak. Tenang. Ini supaya kamu cepat sembuh.”
“Aku nggak mauuuuu!” Tangisan Arya memenuhi ruangan IGD.
Dokter tetap tenang menjalankan prosedur pemasangan infus. Darah juga diambil untuk pemeriksaan laboratorium. Setelah selang infus terpasang dan dipastikan aman, aku mengusap kepalanya lembut.
“Sudah, Nak. Sudah.”
Sekitar tiga puluh menit berselang, seorang perawat memberi tahu bahwa ada kamar yang bisa digunakan.
“Kamar kelas dua ada yang kosong. Kelas tiga belum ada.”
Aku kembali ke bagian pendaftaran. “Ini pasien terdaftar kelas tiga. Karena belum ada kamar kosong, sementara masuk kelas dua dulu. Kalau nanti kelas tiga kosong, akan dipindahkan.”
“Baik.”
“Ini sudah tanggungan BPJS, Pak. Jadi tidak perlu membayar lagi.”
Aku menandatangani dokumen rawat inap secara digital dan memastikan bahwa jam besuk mengizinkan siapa saja untuk menjenguk. Setelah itu, aku kembali ke IGD.
Seorang perawat datang membawa kursi roda. “Ayo kita pindah. Di sini berisik. Kita ke atas, kamarnya lebih sepi.”
“Aku nggak mau!”
“Ayo, Nak. Biar cepat sembuh,” bujukku.
“Aku mau di sini saja.”
Setelah bujukan demi bujukan, akhirnya ia luluh. Aku menggendong dan mendudukkannya di kursi roda menuju lift yang membawa kami ke lantai empat. Kami menempati Kamar 201, kelas 2.
Perawat segera datang memberikan obat melalui selang infus. Tiga jenis suntikan dimasukkan satu per satu. Aku tidak tahu nama obat-obat itu, yang kutahu, semuanya demi membantu tubuh kecil Arya melawan sakit.
Pukul 11.00, makanan rumah sakit tiba: nasi putih, ayam, sayur, dan buah.
“Ayo makan dulu, biar cepat sembuh.”
“Aku nggak mau. Nggak enak. Aku mau tidur.”
Meski Mamah terus membujuk, Arya hanya menelan beberapa suap sebelum kembali tertidur. Makanan yang tersisa akhirnya kuhabiskan daripada mubazir.
Pukul 15.00, perawat memeriksa suhu tubuhnya. “Sudah 36 derajat. Normal.”
Ada embusan napas lega dari kami. Saat makan sore tiba, Arya kembali hanya makan sedikit sebelum tertidur lagi setelah infusnya diganti.
Jumat pagi. Untuk pertama kalinya, Arya mulai menunjukkan nafsu makan, walau hanya tiga atau empat sendok. Bagi kami, itu adalah kabar yang luar biasa.
Sekitar pukul 09.00, dokter anak datang memeriksa. Ia menjelaskan bahwa keluhan Arya mengarah pada infeksi bakteri di saluran pernapasan, kemungkinan karena debu.
“Kita lihat dua hari ke depan. Kalau sudah tidak ada keluhan, hari Minggu boleh pulang.”
“Baik, Dok,” sahut kami serempak.
Sore harinya, seorang sepupu datang menjenguk membawa oleh-oleh. Arya tampak senang meski masih lemah. Namun kebahagiaan itu terganggu saat perawat mengabarkan bahwa kamar kelas 3 sudah tersedia dan kami harus pindah.
“Aku nggak mau! Aku mau di sini sampai pulang,” tolak Arya sambil menangis.
Setelah dibujuk panjang lebar, ia akhirnya mau dipindahkan ke kamar sebelahnya. Bedanya hanya pada jumlah ranjang; kelas 2 berisi dua pasien, sementara kelas 3 empat pasien.
Malam harinya, seorang sahabat dan istrinya datang menjenguk, menanyakan kondisi Arya sebelum pamit setengah jam kemudian. Kamar kembali tenang dan Arya terlelap.
Aku duduk di sampingnya, memandangi wajah kecil yang beberapa hari terakhir terlihat begitu lelah. Dalam hati, aku hanya merapal satu doa: Semoga besok ia semakin sehat.
Sabtu pagi, perawat dan dokter anak kembali mengecek kondisinya.
“Keluhannya tinggal apa sekarang?” tanya dokter.
“Batuk saja, Dok. Panas sudah tidak ada. Suhunya juga normal 36 derajat.”
Dokter tersenyum ramah. “Bagus. Tinggal makannya diperbanyak supaya kondisinya cepat fit. Kalau terus membaik, besok Minggu sudah boleh pulang.”
Aku kembali memandang Arya. Beberapa hari yang lalu, jagoan kecilku ini bahkan tidak mau makan, menangis menahan sakit, demam tinggi, muntah, hingga mengigau ketakutan. Kini, ia sudah bisa makan dan demamnya pun mereda.
Aku menggenggam tangannya yang masih terasa hangat. Di dalam hati, aku berbisik, “Cepat sembuh, Jagoan kecilku.”
Sebab ternyata, menjadi seorang ayah bukan hanya tentang bekerja mencari nafkah, bukan hanya tentang pulang membawa kue, atau mengantar anak ke sekolah.
Menjadi ayah adalah tentang tetap terjaga ketika anak sakit. Tentang menahan cemas luar biasa ketika tubuh mungilnya demam. Tentang menggenggam tangannya erat ketika ia ketakutan, dan tentang berharap diam-diam agar semua rasa sakit yang ia derita bisa berpindah ke tubuh kita.
Malam-malam panjang di rumah sakit ini mengajarkan satu hal berharga kepadaku: Tidak ada suara yang lebih membuat seorang ayah ketakutan, selain suara tangisan anaknya sendiri.
Semoga jagoan kecilku segera pulang. Pulang ke rumah. Pulang ke tempat tidurnya yang nyaman. Pulang untuk kembali berlari ke pintu samping, menyambut deru sepeda motor tua ayahnya.
Dan suatu hari nanti, ketika aku pulang bekerja, semoga suara nyaring itu kembali terdengar menyapaku...
“Ayaaaaaaah... mana kuenya?”
Tentang Rohim, berasal dari Ponorogo. Kini bergiat sebagai wartawan di Bacamini.com.

Posting Komentar untuk "Jagoan Kecilku Sakit Karya Rohim "