PUISI YOHAN MATAUBANA

MAKAN SIANG GRATIS

apa itu makan siang gratis?
bibi bertanya pada meja, di hadapan televisi
dan uap kopi. 
sedangkan perutku berkali-kali kentut;
dan sedikit lagi, 
aroma daging ayam, sayur putih, telur
(beserta laporan makan siang yang digratiskan)
muntah dari pantatku.
Foto ilustrasi Kaka Lisa

pu... 
bibi mendengar kentutku.
pu... pu... pu...
telinga bibi peka menangkap informasi darurat.
pu... pu... pu...
di pintu dapur, mata bibi macam buku daftar bon, 
dengan suara serendah desis panci, ia mengambil jahe,
langkuas, teh, air panas.
disatukan dalam gelas,
gelas itu menertawakanku
pu... pu... pu...
perutku berteriak makin keras
sial, makanan bergizi!

bibi meletak ramuan bumbu di meja makan. 
uapnya mengepul,
mengorek sisa makan siang gratis di perutku.



RERANTANG BERISI HARI PRESIDEN

musim hujan. kau duduk di kelas, 
menghitung buku mana yang bisa menjadi alas.
menanti guru, mengantar rantang makan siang cuma-cuma. 

nasi itu menikam rasa lapar, 
menggemukkan mata, menggugat martabat guru, 
yang kini berlagak pelayan budi pekerti.
 
guru itu hanya sekumpulan kertas rapuh; 
di dalamnya bersemayam suara lapar di rumah. 
peluh istrinya tak terbayar, mengkristal 
jadi garam pahit di punggungnya.

di penghujung hari, 
kau pulang dengan perut penuh janji presiden.
sementara di rumah, guru itu
memandang rantang kosong di meja makannya, 
lalu ia bertanya pada buku-buku rapuh:

pelajaran apa yang bisa dimakan malam ini?




PUISI TELKOMSEL E

di detukeli, sinyal hanyalah
telkomsel E. 
layar vivo yang mati, diajari tabah 
oleh hujan.
sebab, ketabahan lebih terukur pada
sirih-pinang,
pada kopi pahit, pada rokok saliti yang 
setia,
menghuni sunyi meja tamu.

di detukeli, siaran pers dan riuh demo tak lagi bernilai
berita.
ia diterjemahkan hujan sebagai bisikan maaf yang tak butuh
keributan. 

jika kau datang bertanya: apa kabar detukeli? 
jakarta tak pernah kau temukan di sana.
jejak digital (tiktok, whatsapp, twitter) lenyap 
dikutuk sinyal. 

sebab, 
di tanah ini, 
jaringan hanya sanggup menakar
kabut yang memagari mata rakyat, 
dan mengantar pesan hujan yang abadi,
pesan yang takkan pernah mencapai jakarta.


Biodata:
*Yohan Mataubana, perantau dari pulau Timor yang kini mengais nasib di Maumere. @yohanyohan97.


Tulisan ini merupakan karya sastra/opini penulis. Isi tulisan sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis dan tidak selalu mencerminkan sikap redaksi Bacamini.com.

2 komentar untuk "PUISI YOHAN MATAUBANA"

  1. sebab,
    di tanah ini,
    jaringan hanya sanggup menakar
    kabut yang memagari mata rakyat,
    dan mengantar pesan hujan yang abadi,
    pesan yang takkan pernah mencapai jakarta.

    BalasHapus