Cerpen Anjing Kesayangan



YOSEP memegang kedua ujung bajunya seperti proklamator di hadapan kobaran api. Baju itu mengeluarkan uap dan menyisahkan aroma asap. Ia membalikkan bagian depan setelah jemarinya terasa panas. “ha, begitu,” ucapnya kepada logo bintang segitiga tepat di bagian kanan dada baju itu. Sementara, anjingnya mendengkur di atas abu. Anjing itu diberi nama Setia. Bukan hanya karena ia akan mengekor apabila Yosep bepergian, tetapi nama itu sebagai kenangan akan masa lalu.

Tepat di samping rumah itu, Setia akan mendengkur panjang dan bersiap-siaga untuk menjaga tuannya. Namun, malam itu Setia tidak ingin meninggalkan tuannya di hadapan tungku api. Sebelum menutup matanya yang sayu, anjing itu sempat memandang Yosep. Celana cokelat pria berkulit hitam itu lembab.

Yosep mengelus kepala anjing itu setelah memakai bajunya yang telah mengering. “Kau sudah besar juga,” gumamnya pada anjing yang telah terlelap dalam tidur dengan moncong yang nyaris mencium ekornya. Kulit tangan Yosep yang tebal  sontak terhenti. Matanya memandang genteng daun kelapa yang sedang ditembusi air hujan, sementara di luar sana petir berdentum-bersahutan dengan derasnya hujan.

Yosep mendorong beberapa kayu ke dalam nyala api yang telah meredup. Kedua tangannya memeluk lutut yang terapit rapat. Sambil memandang api yang berkobar, air matanya berlinang jatuh melewati garis matanya yang sayu dan bersarang di kumis ubannya. Di depan kobaran api, ia melihat ayahnya yang telah meninggal puluhan tahun.

***

Ketika kumis Yosep mulai tumbuh subur, ayahnya membeli seeokor anjing di pasar. Tubuhnya ramping seperti anjing Herder. Ayah memberi nama anjing itu: Setia. Sebab seturut pengalamannya, insting anjing bisa dilatih. Karena itu, sang ayah sering menggendong anjing itu jika bertamu di tetangga atau ke tempat kerja. Dan selalu membelikan sate kambing sebagai pelengkap makanan. Kehadiran Setia di rumah layak seorang anak perempuan yang diiginkan sang ayah. Ayah membelikan juga sebuah boneka beruang madu.

Saat itu ibu yang sudah beberapa hari melahiran si bungsu sempat mengomel.

“Kau hanya bermain dengan anjing. Diminta cuci loyor anak pun kau tak mau. Siapa yang urus kalau bukan kau? Jangan lagi kau bilang ini karna anak laki-laki!”

Yosep yang sedang memakai celana biru abu-abunya sempat mengerutkan dahi. Kalimat yang sama itu masuk lagi ke dalam tabungan kepalanya. Sehingga pagi ini ia membuat kesimpulan: bapa menginginkan anak perempuan, bukan saya.

Kakaknya yang pertama baru pulang kuliah setelah menyelesaikan waktu yang ditetapkan pihak kampus.

“Di mana ijasah?”

“Masih di kampus, Bapa.”

“Anak Om Kobus sudah pulang. Dia bawa ijasahnya. Saya dengar, dia sudah kerja tiga tahun lalu.”

“Ya, itu dia perempuan, Bapa. Kami beda kelas.”

“Kuliah apa saja, Kau? Lebih baik kerja bangunan.”

Yang kedua pun sama. Skripsinya mentok di bab awal. Tengkorak kepala yang awalnya dibalut lemakpun nyaris mengering seperti menghadapi ujian kematian. Namun ia memiliki satu prinsip: jika gagal, jangan kembali ke rumah. Sang ayah nyaris masuk rumah sakit karena lidahnya kaku di atas langit-langit mulutnya setelah hampir menumbangkan satu jerigen moke. Namun ia masih mempunyai harapan baru: anak ketiga.

Mula-mula anak itu tidak ingin mengikuti jejak kegagalan kedua kakaknya. Ia tidak ingin kuliah. Karena itu, ia ingin menjadi polisi. Sehari menjelang kelulusan akademiknya, sang ayah menjual dua bidang tanah agar memastikan anak itu kemudian dikukuhkan menjadi seorang polisi. Namun ketidakberuntungan membuat nasib seluruh keluarga itu berubah total. Ibunya tidak lagi pergi memilih kelapa dan kakao; sang ayah tidak memegang parang ke kebun. Sang ibu memintal benang untuk membuat sarung. Ayah yang belum memperoleh pekerjaanpun turut membantu. Mereka bekerja dalam diam. Hanya tangan yang bergerak dan tatapan kosong pada benang yang kaku.

Pagi itu sang ayah memanggil-manggil Setia. Anjing itu tak segera datang. Beberapa panggilanpun diulang. Namun, hasilnya nol bulat. Ia berpontang panting mencari anjing itu di kolong tempat tidur, samping lemari di setiap kamar, dan belakang dapur tetapi tidak menemukan anjing kesayangannya. Ia pun melangkah ke beranda rumah.

“Setia?”

Anjing itu tidak bergerak. Tubuhnya kaku seperti batu.

“Anjing! Perbuatan siapa ini?

“Kenapa?” suara istrinya terlempar dari dalam rumah.

“Ini. Lihat. Setia sudah mati!”

“Siapa yang buat?”

“Saya akan cari orang itu sampai dapat!”

Sang ayah mengambil parang dan membiarkan anjing itu di hadapan istrinya.

“Mika! Mika... keluar kau. Anjing saya sudah mati. Ini pasti kau yang buat! Keluar kau! Saya sudah tidak sabar lagi. Kemarin kau bilang mau beli anjing ini tapi saya tidak mau. Dan anjing saya mati. Keluar kau!”

“Sudah. Sudah, Bapa. Ini masih pagi. Awas orang datang.” Sang istri menenagkan.

“Pokoknya keluar kau, anjing!”

“Sudah, Bapa. Kita doa saja.”

“Saya akan  cari pendoa!” Kau jangan lari, Mika!”

Karena tidak menemukan ciri-ciri Mika yang disebut oleh pendoa, sang ayah menyerah. Ia pun menghubungi teman lamanya seorang pensiunan polwan. Untuk mengubah nasib, sang ayah menerima tawaran dari teman itu. Ia dikabarkan akan merenofasi sebuah home stay di kota metropolitan. Sebab itu, sang ayah pergi dengan hati yang dipenuhi harapan dan kekecewaan. Mereka pun bertemu di kota dan memutuskan kesepakatan: sang ayah harus mengerjakan bangunan itu dalam waktu sebulan. Awalnya pikirannya tenggelam melihat bangunan yang telah mangkrak itu. Warna-warna jubin sudah pudar karna waktu dan beberapa telah retak dan pecah, beberapa bagian tembok harus diplester, plafon dan atapnyapu mesti diganti.

Sang ayah terpaku di dalam bangunan itu. Namun, hatinya tidak gentar. Bagai pahlawan di medan perang ia memegang palu dan memukul jubin-jubin itu dengan semangat. Bangunan itu kian hari semakin berubah sesuai keinginan pemiliknya. Polwan itu terangguk-angguk memuji pekerjanya yang cekatan. Meskipun seorang diri, tapi tenaganya seperti sepuluh orang pemuda.

Semakin hari sang ayah hanya mengandalkan kopi agar membuat matanya tetap terjaga. Hingga pekerjaan itu rampung, ia pun tahu tubunya sangat kurus dan tidak terawat di hadapan cermin di kamar mandi. Ia tertegun. Matanya tenggelam dan menyisahkan warna hitam. Dadanya berguncang jika nasib sial segera menjemputnya. Namun, ia masih mendekap dada sebab  segepok uang merah sudah hangat di saku celananya.

Untuk menghemat pengeluaran, ia tidak menggunakan pesawat terbang. Ia membeli tiket kapal dan sekeor anjing berusia sebulan. Anjing hitam itupun  diberinama Setia. Bersama anjing itu, ia berlayar bersama kapal yang membawanya pulang ke rumah. Sambil memandang anjing itu, ia memikirkan rencana untuk membelikannya pakaian dan beberapa makanan di tokoh. Pikiran itu terbawa dalam mimpi sang ayah. Dalam mimpi itu ia menemui Setia yang telah mati bulan lalu. Anjing itu makin imut, bersih dan wangi serta mengenakan kebaya layaknya seorang anak baby. Ia mengibaskan ekornya mejemput tuannya yang telah lama menghilang.

Namun, di atas kapal banyak mata memandang anjing yang tadi dibelinya. Anjing itu pun mondar-mandir tak tenang. Hingga petugas kapal mencoba membangunkan sang ayah. Setia menggongong dengan suara kecilnya. Mereka tertegun. Tubuh lelaki itu telah dingin dan kaku di atas tempat tidur penumpang. Seketika itu nahkoda kapal memerintahkan para ABK memikul sang ayah. “Masukan ke ruang jenazah.”

***

Tanpa sadar Setia sudah bersandar di samping Yosep. Sempat terlintas di kepalanya untuk melempar anjing itu, tapi kematian sang ayah menyisahkan dosa masa lalu yang terus mengekornya. Karena itu, ia membuka baju lantas membalut anjing itu agar tidak kedinginan, sebab menurut cerita sang ayah sebelum meninggal; nenek moyang mereka telah berutang budi pada anjing dan berjanji untuk tidak melukai semua anjing di bumi.

Keesokan harinya dua orang bermotor membawa istrinya ke kebun. Yosep termangu. Dua orang itu datang tentu dengan maksud yang sama. Mereka ingin menagih uang yang dipinjam. Pasalnya, sudah lima bulan Yosep belum membayar sepeserpun tagihan setelah menyukseskan acara wisudah anak perempuan semata wayangnya. Pesta itu berlangsung selama tiga hari tiga malam dengan dentuman musik yang menggetarkan rongga dada dan moke yang tidak pernah habis.

“Bagaimana, Bapa. Kapan bayar utang?”

“Maaf, Pak. Saya sedang berobat. Tangan kanan masih terluka.”

“Ya, berobat di rumah sakit, Pak, bukan di kebun.”

“Pak jangan mencampuri urusan saya!”

Setia berlari kegirangan dari arah belakang Yosep. Ia menunjukkan adegan keakraban dengan tuannya di hadapan dua orang itu: menggulum jari tuannya. Yosep terperanjat: ia sudah menampar anjing itu hingga terpelanting dua meter.  Kedua orang itupun membawanya pergi.

 

Catatan:

Moke: Minuman lokal di NTT yang mengandung alkohol

 Tentang Penulis:

Ito Benggu berasal dari Eban-Sallu. Suka menulis dan membaca. Penulis bisa dihubungi melalui itobenggu991@gmail.com



Posting Komentar untuk "Cerpen Anjing Kesayangan"