Cerpen Anjing Kesayangan
Tepat di samping rumah itu, Setia akan mendengkur panjang dan bersiap-siaga untuk menjaga tuannya. Namun, malam itu Setia tidak ingin meninggalkan tuannya di hadapan tungku api. Sebelum menutup matanya yang sayu, anjing itu sempat memandang Yosep. Celana cokelat pria berkulit hitam itu lembab.
Yosep mengelus kepala anjing itu
setelah memakai bajunya yang telah mengering. “Kau sudah besar juga,”
gumamnya pada anjing yang telah terlelap dalam tidur dengan moncong yang nyaris
mencium ekornya. Kulit tangan Yosep yang tebal
sontak terhenti. Matanya memandang genteng daun kelapa yang sedang
ditembusi air hujan, sementara di luar sana petir berdentum-bersahutan dengan
derasnya hujan.
Yosep mendorong beberapa kayu ke
dalam nyala api yang telah meredup. Kedua tangannya memeluk lutut yang terapit
rapat. Sambil memandang api yang berkobar, air matanya berlinang jatuh melewati
garis matanya yang sayu dan bersarang di kumis ubannya. Di depan kobaran api,
ia melihat ayahnya yang telah meninggal puluhan tahun.
***
Ketika kumis Yosep mulai tumbuh
subur, ayahnya membeli seeokor anjing di pasar. Tubuhnya ramping seperti anjing
Herder. Ayah memberi nama anjing itu: Setia. Sebab seturut pengalamannya,
insting anjing bisa dilatih. Karena itu, sang ayah sering menggendong anjing
itu jika bertamu di tetangga atau ke tempat kerja. Dan selalu membelikan sate
kambing sebagai pelengkap makanan. Kehadiran Setia di rumah layak seorang anak
perempuan yang diiginkan sang ayah. Ayah membelikan juga sebuah boneka beruang
madu.
Saat itu ibu yang sudah beberapa hari
melahiran si bungsu sempat mengomel.
“Kau hanya bermain dengan anjing.
Diminta cuci loyor anak pun kau tak mau. Siapa yang urus kalau bukan kau?
Jangan lagi kau bilang ini karna anak laki-laki!”
Yosep yang sedang memakai celana biru
abu-abunya sempat mengerutkan dahi. Kalimat yang sama itu masuk lagi ke dalam
tabungan kepalanya. Sehingga pagi ini ia membuat kesimpulan: bapa menginginkan
anak perempuan, bukan saya.
Kakaknya yang pertama baru pulang kuliah setelah
menyelesaikan waktu yang ditetapkan pihak kampus.
“Di mana ijasah?”
“Masih di kampus, Bapa.”
“Anak Om Kobus sudah pulang. Dia bawa ijasahnya. Saya
dengar, dia sudah kerja tiga tahun lalu.”
“Ya, itu dia perempuan, Bapa. Kami beda kelas.”
“Kuliah apa saja, Kau? Lebih baik kerja bangunan.”
Yang kedua pun sama. Skripsinya
mentok di bab awal. Tengkorak kepala yang awalnya dibalut lemakpun nyaris
mengering seperti menghadapi ujian kematian. Namun ia memiliki satu prinsip:
jika gagal, jangan kembali ke rumah. Sang ayah nyaris masuk rumah sakit karena
lidahnya kaku di atas langit-langit mulutnya setelah hampir menumbangkan satu
jerigen moke. Namun ia masih mempunyai harapan baru: anak ketiga.
Mula-mula anak itu tidak ingin
mengikuti jejak kegagalan kedua kakaknya. Ia tidak ingin kuliah. Karena itu, ia
ingin menjadi polisi. Sehari menjelang kelulusan akademiknya, sang ayah menjual
dua bidang tanah agar memastikan anak itu kemudian dikukuhkan menjadi seorang
polisi. Namun ketidakberuntungan membuat nasib seluruh keluarga itu berubah
total. Ibunya tidak lagi pergi memilih kelapa dan kakao; sang ayah tidak
memegang parang ke kebun. Sang ibu memintal benang untuk membuat sarung. Ayah
yang belum memperoleh pekerjaanpun turut membantu. Mereka bekerja dalam diam.
Hanya tangan yang bergerak dan tatapan kosong pada benang yang kaku.
Pagi itu sang ayah memanggil-manggil
Setia. Anjing itu tak segera datang. Beberapa panggilanpun diulang. Namun,
hasilnya nol bulat. Ia berpontang panting mencari anjing itu di kolong tempat
tidur, samping lemari di setiap kamar, dan belakang dapur tetapi tidak
menemukan anjing kesayangannya. Ia pun melangkah ke beranda rumah.
“Setia?”
Anjing itu tidak bergerak. Tubuhnya
kaku seperti batu.
“Kenapa?” suara istrinya terlempar
dari dalam rumah.
“Ini. Lihat. Setia sudah mati!”
“Siapa yang buat?”
“Saya akan cari orang itu sampai
dapat!”
Sang ayah mengambil parang dan
membiarkan anjing itu di hadapan istrinya.
“Mika! Mika... keluar kau. Anjing
saya sudah mati. Ini pasti kau yang buat! Keluar kau! Saya sudah tidak sabar
lagi. Kemarin kau bilang mau beli anjing ini tapi saya tidak mau. Dan anjing
saya mati. Keluar kau!”
“Sudah. Sudah, Bapa. Ini masih pagi.
Awas orang datang.” Sang istri menenagkan.
“Pokoknya keluar kau, anjing!”
“Sudah, Bapa. Kita doa saja.”
“Saya akan cari pendoa!” Kau jangan lari, Mika!”
Karena tidak menemukan ciri-ciri Mika
yang disebut oleh pendoa, sang ayah menyerah. Ia pun menghubungi teman lamanya
seorang pensiunan polwan. Untuk mengubah nasib, sang ayah menerima tawaran dari
teman itu. Ia dikabarkan akan merenofasi sebuah home stay di kota
metropolitan. Sebab itu, sang ayah pergi dengan hati yang dipenuhi harapan dan
kekecewaan. Mereka pun bertemu di kota dan memutuskan kesepakatan: sang ayah
harus mengerjakan bangunan itu dalam waktu sebulan. Awalnya pikirannya
tenggelam melihat bangunan yang telah mangkrak itu. Warna-warna jubin sudah
pudar karna waktu dan beberapa telah retak dan pecah, beberapa bagian tembok
harus diplester, plafon dan atapnyapu mesti diganti.
Sang ayah terpaku di dalam bangunan
itu. Namun, hatinya tidak gentar. Bagai pahlawan di medan perang ia memegang
palu dan memukul jubin-jubin itu dengan semangat. Bangunan itu kian hari
semakin berubah sesuai keinginan pemiliknya. Polwan itu terangguk-angguk memuji
pekerjanya yang cekatan. Meskipun seorang diri, tapi tenaganya seperti sepuluh
orang pemuda.
Semakin hari sang ayah hanya
mengandalkan kopi agar membuat matanya tetap terjaga. Hingga pekerjaan itu
rampung, ia pun tahu tubunya sangat kurus dan tidak terawat di hadapan cermin
di kamar mandi. Ia tertegun. Matanya tenggelam dan menyisahkan warna hitam.
Dadanya berguncang jika nasib sial segera menjemputnya. Namun, ia masih
mendekap dada sebab segepok uang merah
sudah hangat di saku celananya.
Untuk menghemat pengeluaran, ia tidak
menggunakan pesawat terbang. Ia membeli tiket kapal dan sekeor anjing berusia
sebulan. Anjing hitam itupun diberinama
Setia. Bersama anjing itu, ia berlayar bersama kapal yang membawanya pulang ke
rumah. Sambil memandang anjing itu, ia memikirkan rencana untuk membelikannya
pakaian dan beberapa makanan di tokoh. Pikiran itu terbawa dalam mimpi sang
ayah. Dalam mimpi itu ia menemui Setia yang telah mati bulan lalu. Anjing itu
makin imut, bersih dan wangi serta mengenakan kebaya layaknya seorang anak
baby. Ia mengibaskan ekornya mejemput tuannya yang telah lama menghilang.
Namun, di atas kapal banyak mata
memandang anjing yang tadi dibelinya. Anjing itu pun mondar-mandir tak tenang.
Hingga petugas kapal mencoba membangunkan sang ayah. Setia menggongong dengan
suara kecilnya. Mereka tertegun. Tubuh lelaki itu telah dingin dan kaku di atas
tempat tidur penumpang. Seketika itu nahkoda kapal memerintahkan para ABK
memikul sang ayah. “Masukan ke ruang jenazah.”
***
Tanpa sadar Setia sudah bersandar di
samping Yosep. Sempat terlintas di kepalanya untuk melempar anjing itu, tapi
kematian sang ayah menyisahkan dosa masa lalu yang terus mengekornya. Karena
itu, ia membuka baju lantas membalut anjing itu agar tidak kedinginan, sebab
menurut cerita sang ayah sebelum meninggal; nenek moyang mereka telah berutang
budi pada anjing dan berjanji untuk tidak melukai semua anjing di bumi.
Keesokan harinya dua orang bermotor
membawa istrinya ke kebun. Yosep termangu. Dua orang itu datang tentu dengan
maksud yang sama. Mereka ingin menagih uang yang dipinjam. Pasalnya, sudah lima
bulan Yosep belum membayar sepeserpun tagihan setelah menyukseskan acara
wisudah anak perempuan semata wayangnya. Pesta itu berlangsung selama tiga hari
tiga malam dengan dentuman musik yang menggetarkan rongga dada dan moke yang
tidak pernah habis.
“Bagaimana, Bapa. Kapan bayar utang?”
“Maaf, Pak. Saya sedang berobat.
Tangan kanan masih terluka.”
“Ya, berobat di rumah sakit, Pak,
bukan di kebun.”
“Pak jangan mencampuri urusan saya!”
Setia berlari kegirangan dari arah
belakang Yosep. Ia menunjukkan adegan keakraban dengan tuannya di hadapan dua
orang itu: menggulum jari tuannya. Yosep terperanjat: ia sudah menampar anjing
itu hingga terpelanting dua meter. Kedua
orang itupun membawanya pergi.
Catatan:
Moke: Minuman lokal di NTT yang
mengandung alkohol

Posting Komentar untuk "Cerpen Anjing Kesayangan"